Selalutersenyum dan ramah dengan orang lain juga merupakan contoh perbuatan baik. Meski perbuatan baik melalui senyuman dan keramahan hanya bisa dilihat dari luar, ini adalah awal yang baik untuk saling menghormati dan dicintai oleh orang lain. Mengajarkan Orang Lain
RukunIslam yang pertama adalah Syahadat tentunya saudara,kenapa dalam lima rukun islam itu syahadat yang di dahulukan karena ada makna yang besar terselip disana.Nah marilah kita bahas bersama.Awaluddin Ma'rifatullah (Awal agama itu adalah mengenal Allah),maknanya adalah bahwa tidaklah dapat dikatakan seseorang itu beragama dengan baik kalau proses keberagamaannya itu tidak diawali dengan
Eps15 Senja Jatuh di Pajajaran Karya Aan Merdeka Bersama Nyi Santimi dia terperosok ke jurang cinta yang hanya mementingkan nafsu lahiriyah belaka. Ketika gejolak birahi meninggi dan
Jikakita berbicara mengenai iman, tentu saja hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari tindakan. Yakobus 2:26 sudah menuliskannya untuk kita, bahwa iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati. Beberapa kali Yesus memuji iman orang-orang yang ditemui-Nya. Contohnya kisah pada Lukas 7:50. Setelah wanita berdosa itu meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi, Yesus kemudian mengucapkan, "Imanmu
Nah sebelumnya telah dipaparkan bahwa akhlak terpuji merupakan akhlak yang menimbulkan perbuatan baik. Akhlak terpuji atau akhlakul kharimah bersumber dari dua hal, yaitu agama dan tradisi atau adat istiadat. Akhlak yang bersumber dari agama berasal dari ayat suci Al-Qur'an, sementara dari tradisi atau adat istiadat berasal dari kebiasaan secara turun-temurun yang bisa dijadikan sumber akhlak
2Yehuwa adalah Pemberi "setiap pemberian yang baik dan hadiah yang sempurna". ( Yakobus 1:17) Salah satu hadiah dari-Nya adalah kemampuan berbicara. Hadiah ini membuat kita bisa mengungkapkan pikiran dan perasaan kita. Kata-kata kita bisa membantu orang lain dan membuat mereka senang. Tapi, itu juga bisa melukai dan menyakiti mereka.
. ďťżPertanyaan Jawaban Sederhananya, memperoleh keselamatan melalui perbuatan tampaknya benar menurut manusia. Salah satu keinginan manusia yang paling mendasar adalah untuk mengendalikan nasibnya, termasuk nasib kekalnya di akhirat. Keselamatan melalui perbuatan menarik karena menjunjung tinggi harga diri seseorang serta keinginannya untuk memegang kendali. Diselamatkan oleh perbuatan baik jauh lebih menarik daripada ide diselamatkan melalui iman saja. Manusia juga memiliki kesadaran tentang keadilan secara bawaan. Seorang ateis fanatik pun mempercayai adanya keadilan dan dapat membedakan yang benar dengan yang salah, walaupun ia tidak mempunyai dasar moralitas yang jelas dalam menarik kesimpulan. Pemahaman benar dan salah ini menuntut supaya âperbuatan baikâ kita lebih banyak dibanding âperbuatan jahat,â jika kita ingin selamat. Oleh karena itu, ketika manusia menciptakan agama maka secara alami keselamatan melalui perbuatan baik akan diajarkan di dalamnya. Karena keselamatan melalui perbuatan baik sangat menggiurkan bagi khodrat berdosa manusia, teori tersebut menjadi dasar dari hampir setiap agama kecuali agama Kristen yang alkitabiah. Amsal 1412 menyatakan bahwa âAda jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.â Keselamatan melalui perbuatan disangka benar oleh manusia, sehingga sudut pandang tersebut menjadi dominan. Inilah alasannya mengapa agama Kristen begitu berbeda dari agama yang lain â ialah satu-satunya agama yang mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah dari Allah dan bukan karena perbuatan baik. âSebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu jangan ada orang yang memegahkan diriâ Efesus 28-9. Adapun alasan mengapa sudut pandang ini mendominasi, yakni karena manusia yang alami yang belum diperbarui Roh Kudus tidak sepenuhnya memahami kebejatannya atau kekudusan Allah. Hati manusia âtak dapat diduga, paling licik dari segala-galanya dan terlalu parah penyakitnyaâ Yeremia 179, dan kekudusan Allah melampaui segala batas Yesaya 63. Berdustanya hati kita mengaburkan parahnya kondisi hati kita yang sebenarnya, sehingga kita tidak dapat menyadari keadaan kita yang sebenarnya di hadapan Allah yang kekudusan-Nya juga melampaui segala akal kita. Namun kenyataannya masih saja tetap; keberdosaan kita dan kekudusan Allah ketika tercampur menjadikan upaya terbaik kita bak âkain kotorâ di hadapan Allah yang kudus Yesaya 646; baca juga pasal 61-5. Anggapan bahwa perbuatan baik manusia dapat menetralkan perbuatan jahatnya adalah anggapan yang sangat bertolak belakang dengan pesan Alkitab. Tidak hanya itu, Alkitab menjelaskan bahwa tolak ukur Allah tidak kurang dari kesempurnaan 100 persen. Jika kita gagal memelihara satu saja bagian Hukum Allah, maka kita sama bersalahnya dengan seseorang yang telah melanggar semuanya Yakobus 210. Dengan demikian, tidak ada cara kita dapat diselamatkan jika keselamatan benar-benar tergantung pada perbuatan baik kita. Cara lain keselamatan melalui perbuatan dapat menyusup masuk ke denominasi dan aliran Kristen atau yang mengaku percaya dalam Alkitab ialah penyalah-tafsiran ayat seperti Yakobus 224 âJadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.â Jika kita membaca ayat ini di dalam konteksnya Yakobus 214-16, maka cukuplah jelas bahwa Yakobus bukan mengajar bahwa perbuatan baik adalah yang membenarkan kita di hadapan Allah; sebaliknya, ia menjelaskan bahwa iman sejati yang menyelamatkan tercermin oleh perbuatan baik. Seseorang yang mengklaim sebagai Kristen tetapi hidup dalam ketidaktaatan yang disengaja, imannya palsu atau âmatiâ, dan ia belum selamat. Yakobus sedang membedakan antara dua jenis iman â iman sejati yang menyelamatkan dan iman palsu yang mati. Ada terlalu banyak ayat yang menjelaskan bahwa seseorang tidak diselamatkan oleh perbuatan, sehingga orang Kristen tidak dapat berdalih. Titus 34-5 merupakan salah satu contohnya âTetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus.â Perbuatan baik tidak menambah apapun kepada keselamatan kita, tetapi selalu menjadi ciri khas seseorang yang telah lahir baru. Perbuatan baik bukanlah penyebab keselamatan; ialah bukti keselamatan. Walaupun konsep keselamatan melalui perbuatan mendominasi, Alkitab jelas menentangnya. Alkitab mengandung sangat banyak bukti bahwa keselamatan diberikan sebagai anugerah. English Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia Mengapa keselamatan melalui perbuatan merupakan sudut pandang yang paling dominan?
Anjuran untuk berbuat baik tentu sudah sering kamu dengar, 'kan? Nah, kita juga selalu dianjurkan untuk berbuat baik dengan niat yang baik pula. Namun, sebagai manusia biasa kita terkadang sulit menjaga niat dalam berbuat baik agar tetap tulus dan tanpa jarang kita berbuat baik dengan alasan terselubung dan niat yang tidak terpuji. Jangan salah, niat tak terpuji tersebut sering muncul secara halus, bahkan tanpa kamu sadari. Oleh karena itu, kamu perlu tahu nih ada lima niat tidak terpuji yang sering muncul saat berbuat baik. Apa saja? Yuk kita simak!1. Niat untuk philcoffmanIni nih salah satu niat tidak terpuji yang sering muncul saat berbuat baik. Tak jarang, seseorang melakukan kebaikan untuk pamer kepada orang lain. Salah satu tanda dari sikap pamer ini adalah keinginan untuk melakukan kebaikan di depan umum atau banyak orang, bila tak ada yang melihat dan tahu maka ia mengurungkan niatnya untuk berbuat belum tentu orang yang berbuat baik di depan umum punya maksud atau niat untuk pamer. Di sini, seseorang perlu jujur untuk menilai niat dari hatinya sendiri, apakah memang ia bermaksud untuk pamer atau tidak. Jadi, kita juga tidak bisa langsung menilai orang lain tanpa tahu niat sebenarnya dari orang yang bersangkutan. Lebih baik tetap berbaik sangka saja, ya!2. Niat untuk diakui dan BrownAda juga orang yang berbuat baik demi mendapatkan pengakuan dan pujian dari orang lain. Bila tidak ada pengakuan dan penghargaan dari orang lain, ia menolak mentah-mentah untuk berbuat baik. Niat untuk diakui ini sering tidak disadari, begitu halus sampai kita sendiri sering tertipu olehnya. Jadi, berbuat baiklah karena niat hati yang tulus untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi orang lain, bukan karena ingin diakui dan dipuji. Setuju? Baca Juga 5 Perbuatan 'Pansos Positif' yang Boleh Kamu Lakukan di Media Sosial 3. Niat untuk mempermalukan orang lain SpaseJangan salah, perbuatan baik yang dilakukan dapat dilakukan dengan niat yang sangat tidak terpuji, lho. Salah satunya adalah niat untuk mempermalukan orang lain. Seseorang yang punya niat ini beranggapan bahwa ia bisa menggunakan kebaikan untuk menjatuhkan orang lain. Ia akan melakukan hal-hal baik yang ia rasa tak dapat dilakukan orang lain, dengan maksud untuk mempermalukan mereka. Bila seseorang puas ketika melihat orang lain merasa dipermalukan dengan kebaikannya, maka jelas kalau dari awal ia sudah punya niat tak Niat untuk memupuk citra diri yang baik, demi tujuan yang tak ada yang salah bila seseorang ingin tampil menjadi pribadi lebih baik dan positif. Namun, niat dari hati yang menentukan ketulusan seseorang dalam berbuat baik. Jika ternyata maksud dan tujuannya berbuat baik adalah untuk memupuk citra diri yang baik dengan tujuan negatif, maka ia sudah melenceng dari makna kebaikan tersebut. Misalnya, ia berbuat baik supaya orang lain percaya padanya dan kemudian ia merencanakan hal-hal tidak baik. Segera hindari niat ini, ya!5. Niat untuk mendapat DuranNah, niat yang satu ini sepertinya juga tak asing di telingamu. Berbuat baik dengan pamrih atau mendapat imbalan rasanya sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Gampangnya, seseorang hanya mau berbuat baik bila ia mendapat keuntungan dan balasan atas kebaikannya. Bila niat ini sudah muncul dari awal, maka ketulusan hati untuk berbuat baik pun sirna dengan menjaga hati dari niat tak terpuji memang bukanlah hal yang mudah. Perlu tekad kuat untuk melatih diri supaya bisa menghindari niat tak baik tersebut. Sering-seringlah berbuat baik setiap ada kesempatan, saat itu jugalah kamu bisa mengenali niat dari hatimu sendiri. Semoga bermanfaat! Baca Juga 10 Tips Sukses untuk Memulai Bisnis Rumahan, Niat Saja Tak Cukup! IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.
Hai Kanita, kakak bantu jawab ya Jawaban Ikhlas. Pembahasan Niat yang ikhlas merupakan salah satu awal dari perbuatan yang baik. Contohnya seseorang yang berniat bersedekah akan membuat seseorang terdorong untuk bersedekah. Sehingga niat sangat penting dalam mengerjakan sesuatu. Amalan kebaikan yang dilakukan juga harus diiringi oleh niat yang baik dan ikhlas dalam beramal. Dalam Islam, syarat diterimanya amalan ibadah adalah ikhlas dan mengikuti sunah atau tuntunan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Tanpa salah satunya, amalan menjadi tidak sempurna. Ikhlas menunjukkan jika amalan dilakukan semata-mata hanya untuk Allah subhanahu wa ta'ala. Jadi, niat yang ikhlas menjadi awal perbuatan baik. Semoga memantu!
PERBEDAAN AWALAN ME- DAN DI- DALAM PERBUATAN BAIK DAN BURUK Kita tahu betapa sedihnya keluarga Samuel Hutabarat-Rosti Simanjuntak yang anaknya telah dibunuh secara mengenaskan; Iklan Kita tahu betapa marahnya seseorang ketika difitnah telah berbuat suatu keburukan yang tidak pernah ia lakukan; Kita juga tahu betapa tersinggungnya seseorang ketika nama baiknya dicemarkan di media sosial oleh orang yang tidak bertanggung jawab; Kita tahu pula betapa kecewa seorang suami atau isteri yang telah dikhianati oleh pasangannya. Dari empat contoh di atas, apakah itu merupakan suatu kemalangan atau justeru suatu keberuntungan? ***** Setiap perbuatan â baik maupun buruk â tentu terdiri dari dua komponen, yaitu subyek pelaku, pemberi dan obyek penerima, korban. Sekecil apapun perbuatan itu akan mendapatkan balasannya. Ketika itu perbuatan baik, maka dia akan mendapat ganjaran atau pahala. Ketika itu perbuatan buruk, maka dia akan memperoleh hukuman atau siksa. Pahala maupun siksa bisa dia terima baik langsung di dunia ini, atau nanti kelak di Hari Kiamat. Inilah bentuk dari keadilan Tuhan Al Zalzalah 7-8. Perbuatan Buruk Banyak sekali contoh perbuatan buruk, seperti membunuh, memfitnah, mencemarkan nama baik, mengkhianati, mendustai, mencuri, merampok, memperkosa, melecehkan, menyuap, merekayasa, memanipulasi, dan lain-lain. Ketika suatu kata kerja dari perbuatan buruk diberi awalan me-, maka orang yang melakukannya disebut sebagai pelaku. Sedangkan orang yang menerima perbuatan itu disebut sebagai korban, kata kerja dari perbuatan buruk tadi mendapat awalan di-. Di dalam Al Qurâan, setiap pelaku keburukan kejahatan akan dihisab. Dihisab di sini adalah diadili, baik dalam pengadilan dunia maupun pengadilan di akhirat. Makanya Hari Kiamat disebut juga Yaumul Hisab Hari Pengadilan/Perhitungan. Setelah dihisab, pelaku kejahatan akan mendapatkan hukuman atau balasan, sehingga Hari Kiamat dinamakan pula Yaumul Jaza Hari Pembalasan. Sedangkan sebagai korban, mereka tidak akan dihisab. Justeru apabila mereka mau bersabar dan bertawakkal, ikhlas dan ridha menerima ketetapan dan takdir dari Allah, mereka akan mendapatkan ampunan dan kemuliaan. Dengan demikian, seperti halnya empat contoh peristiwa di awal tulisan ini, secara akidah sebenarnya mereka adalah termasuk orang-orang yang beruntung. Dia yang dibunuh, bukan yang membunuh. Dia yang difitnah, bukan yang memfitnah. Harusnya malah bersyukur, bukan? Perbuatan Baik Apabila suatu kata kerja dari perbuatan baik diberi awalan me-, maka orang yang melakukan perbuatan itu disebut juga sebagai pelaku pemberi, subyek. Misalnya saja, membantu, menolong, mencintai, mengasihi, menyayangi, meringankan, memudahkan, menyantuni, mendamaikan, mengamankan, menyatukan, dan sebagainya. Sementara orang yang menerima perbuatan baik itu dinamakan sebagai penerima obyek. Sebagai penerima, suatu kata kerja mendapatkan awalan di-. Contohnya, dibantu, ditolong, dicintai, dikasihi, disayangi, diringankan, dimudahkan, disantuni, didamaikan, diamankan, disatukan, dan seterusnya. Sama halnya dengan perbuatan buruk, pelaku dari perbuatan baik juga akan dihisab. Dihisab di sini adalah akan mendapatkan pahala. Sedangkan penerima dari perbuatan baik ini tidak akan dihisab. Dia netral, dalam arti tidak mendapat pahala maupun siksa. Perbedaannya adalah pemberi perbuatan baik akan memiliki kemuliaan. Dalam pengertian, tentu orang yang memberi lebih baik daripada orang yang menerima. âTangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya.â Bukhari-Muslim. Intinya, orang yang menerima akan memiliki derajat lebih rendah daripada yang memberi. Apalagi yang menerima ini melakukannya dengan cara-cara seperti mengemis, meminta-meminta, memungut pungli; termasuk juga dengan cara pemaksaan dan atau disertai kekerasan seperti memalak, memeras, membegal, merampok. Inilah yang disebut dalam hadits di atas sebagai âBarangsiapa menjaga kehormatan dirinyaâ dalam artian tidak mengemis, tidak meminta-minta, dan semacamya. ***** Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa jika suatu kata kerja dari perbuatan buruk diberi awalan me-, maka hal ini merupakan sebuah kemalangan. Sebaliknya, jika suatu kata kerja dari perbuatan baik diberi awalan me-, maka hal ini merupakan suatu kemuliaan. Sedangkan apabila suatu kata kerja dari perbuatan buruk diberi awalan di-, maka hal ini merupakan sebuah keberuntungan. Sebaliknya, jika suatu kata kerja dari perbuatan baik diberi awalan di-, maka hal ini bersifat netral, hanya derajatnya saja lebih rendah. Ikuti tulisan menarik trimanto ngaderi lainnya di sini.
Pertanyaan Jawaban Efesus 28-9 menjelaskan bahwa kita tidak diselamatkan oleh perbuatan baik. Sebaliknya, sebelum kita selamat, perbuatan baik kita ditabur dalam kedagingan dan tidak dapat menyenangkan Allah; bahkan perbuatan âbenarâ kita yang terbaik masih tetap gagal mencapai kemuliaan Allah baca Roma 320 dan Yesaya 646. Kita diselamatkan hanya karena Allah itu pemurah dan berbelas kasihan dan telah merancangkan cara supaya kita dinyatakan saleh di hadapan-Nya meskipun kita berdosa Mazmur 865; Efesus 24. Ketika Yesus menjadi dosa bagi kita 2 Korintus 521, kebenaran-Nya diwariskan kepada kita. Keselamatan adalah pertukaran ilahi upaya-pribadi kita yang compang-camping ditukarkan dengan kesempurnaan Kristus. Karena kematian dan kebangkitan-Nya telah melunasi hutang hukuman dosa kita, maka kita dinyatakan sempurna di hadapan Allah Roma 51. Kita diperintah âkenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terangâ Roma 1314. Pada waktu keselamatan, Roh Kudus dating mendiami hati orang yang bertobat Kisah 238. Pribadi kita sudah bukan lagi tuan utama dalam kehidupan kita. Yesus adalah Tuan kita sekarang. Itulah yang dimaksud ketika kita menyatakan Yesus sebagai âTuhanâ kita Roma 109; Kolose 26. Pada suatu waktu kita berjalan ke arah selatan; namun sekarang kita berjalan ke arah utara. Segala sesuatu diubahkan. Kita mulai memandang kehidupan menurut sudut pandang Allah, bukan sudut pandang pribadi kita â sebagaimana ditulis oleh John Newton, âDahulu saya sesat tapi sekarang saya ditemukan, buta, tapi sekarang ku melihat.âDosa yang dahulu dilakukan tanpa pertimbangan panjang-lebar sekarang menimbulkan rasa bersalah atau tuduhan. Mengenal Allah tidak lain dari menganggap dosa sebagaimana Ia menilainya. Satu Yohanes 39 mengajar, âSetiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.â Bukan berlanjut dalam dosa, seorang Kristen yang telah lahir baru akan menghasilkan âbuah yang sesuai dengan pertobatanâ Matius 38. Keselamatan memampukan kita untuk hidup âoleh Rohâ dan benar-benar melakukan perbuatan yang baik Galatia 516. Efesus 210 mengajar, âKarena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.â Tujuan Allah menyelamatkan kita bukan hanya menyelamatkan kita dari neraka, tetapi juga mencerminkan kepribadian dan kebaikan-Nya pada dunia. Allah berkenan melihat kita menjadi semakin serupa dengan Anak-Nya Roma 829. Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dosa telah merusak gambar dan rupa-Nya di dalam diri kita. Ketika Allah mengembalikan kita pada Diri-Nya, adalah untuk memulihkan gambar dan rupa-Nya dalam diri kita dan membebaskan kita seperti keadaan semula. Ketika Roh Kudus tinggal di dalam kita, Ia menggerakkan kita untuk melakukan hal-hal yang memuliakan Allah Yohanes 1426. Keinginan untuk menyenangkan Allah bertumbuh seiring dengan pengertian kita tentang Dia. Keinginan menyenangkan Allah menghasilkan perbuatan baik. Secara alkitabiah menyebutkan bahwa seseorang telah selamat namun belum berubah tidak konsisten. Tidak sedikit orang yang secara luaran menyerahkan hidup mereka pada Kristus, namun tidak diikuti oleh perubahan gaya hidup. Itu bukanlah keselamatan sejati melainkan iman yang âmatiâ Yakobus 226. Ketika Anda masuk ke dalam ruangan yang gelap dan menyalakan sakelar lampu, maka Anda berharap cahaya segera bersinar. Jika tidak ada cahaya yang muncul, maka Anda berasumsi ada sesuatu yang keliru disana. Menyatakan lampu sudah menyala sedangkan ruangan masih gelap tidak konsisten. Terang selalu menghempaskan kegelapan. Ketika hati yang gelap menerima cahaya keselamatan, maka hati itu terang Yohanes 1246. Prioritas orang itu berubah. Keinginannya berubah. Sudut pandangnya berubah. Untuk pertama kali, kehidupan nampak sesuai aslinya. Jika kegelapan dosa masih berlanjut, tidak salah jika kita berasumsi bahwa lampu belum menyala. Adapun kiasan alkitabiah lainnya, yakni bahwa Allah ingin menumbuhkan buah di dalam kehidupan kita baca Galatia 522-23. Ia adalah Penata Anggur, Yesus adalah Pokok Anggur, dan kita adalah cabang. Para cabang secara alami menempel pada pokok; mereka mendapatkan dukungan, kemampuan menghasilkan buah, dan kehidupan bersumber dari pokok anggur. Yesus berkata, âAkulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.â Itulah maksud dari kebun anggur â âberbuah banyak.â Perbuatan baik selalu mengikuti keselamatan. Jadi, meskipun tidak diselamatkan oleh perbuatan baik kita, ketika kita diselamatkan, kita pasti akan menghasilkan perbuatan baik. Sama seperti seorang bayi akan bertumbuh setelah dilahirkan, orang yang percaya akan bertumbuh setelah lahir baru secara rohani. Pola pertumbuhan kita memang tidak setara dan bentuknya pun berbeda, namun kelahiran sejati pasti akan menghasilkan pertumbuhan. Jika bayi tidak pernah bertumbuh, maka ada yang sangat keliru disana. Tidak seorangpun berharap bahwa seorang bayi akan tetap menjadi bayi selamanya. Ketika ia bertumbuh, ia akan semakin menyerupai orang tuanya. Sama-halnya, setelah keselamatan, kita bertumbuh, dan kita semakin menyerupai Bapa Surgawi kita. Hal ini hanya mungkin jika kita âtinggal di dalam Diaâ dan mengizinkan-Nya menumbuhkan karakter-Nya di dalam diri kita Yohanes 154. Perbuatan baik tidak menghasilkan keselamatan. Perbuatan baik adalah hasil dari keselamatan. Yesus berkata pada pengikut-Nya, âDemikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorgaâ Matius 516. English Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia Apakah artinya bahwa perbuatan baik adalah hasil dari keselamatan?
bagaimana awal perbuatan yang baik