Maka Sufyan Ats-Tsauri bersembunyi di Mekah dan tidak muncul di hadapan khalayak. Pada waktu itu, ia mengalami kemiskinan dan kesulitan hidup yang sangat berat. Saat ia dalam keadaan miskin dan sulit ini, saudara perempuannya mengirimkan sekantong khusykananaj kepadanya dari Kuffah melalui kawannya, Abu Syihab Al-Hannath.
KisahAbdullah bin Abbas-Salah satu sahabat Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam yang mulia, Beliau adalah Tinta Ummat, lautan ilmu yang luas, serta fuqoha' nya sahabat radliyallahu 'anhum, Imam Tafir.Tiada yang meragukan kedudukan Beliau di sisi Baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam begitu pula keluasan ilmunya.
PentingnyaKeikhlasan dalam Menuntut Ilmu. ยท Rab 5 Muharram 1444H. Oleh Adam Jogja dan Muh. Naufal Jember, Takmili. Ikhlas merupakan syarat diterimanya ibadah, termasuk dalam menuntut ilmu. Yang mana, menuntut ilmu syar'i adalah jihad yang paling utama di zaman ini. Tapi, seberapa pentingnya ikhlas dalam menuntut ilmu?
TokohTeladan Dalam Semangat Mencari Ilmu. Berikut ini adalah sepenggal kisah-kisah menakjubkan tentang kesungguhan para Ulama dalam menuntut ilmu : a. Kesabaran dan Kesungguhan Menuntut Ilmu. Ibnu Thahir al-Maqdisy berkata : "Aku dua kali kencing darah dalam menuntut ilmu hadits, sekali di Baghdad dan sekali di Mekkah.
Kisahpara sahabat terdahulu amatlah pantas untuk kita ambil pelajaran dan motivasi darinya. Membaca kisah mereka akan menambah iman dan melejitkan semangat, biidznillah. Di antaranya adalah kisah yang akan kita renungi ini. Kisah penggugah kesabaran yang insya Allah akan melambungkan semangat kita dalam menuntut ilmu.
IbnuHamzah berkata: "Imam Ya'qub bin Sufyan berkata kepadaku: " Saya telah mengadakan perjalanan jauh (untuk menuntut ilmu) selama tiga puluh tahun.". Kisah-kisah kesungguhan para ulama salaf dalam mengadakan perjalanan jauh demi menuntut ilmu sungguh sangat banyak dan telah diabadikan dalam buku-buku sejarah Islam.
. Oleh Hannan Majid Purwokerto, Takhasus Kisah para sahabat terdahulu amatlah pantas untuk kita ambil pelajaran dan motivasi darinya. Membaca kisah mereka akan menambah iman dan melejitkan semangat, biidznillah. Di antaranya adalah kisah yang akan kita renungi ini. Kisah penggugah kesabaran yang insya Allah akan melambungkan semangat kita dalam menuntut ilmu. Namun sebelum membaca kisah tersebut, alangkah baiknya jika sedikit mengulas tentang kesabaran dengan makna yang luas. Kesabaran, Sebuah Amalan Besar Sabar, sebuah kata yang mudah diucapkan, sering terdengar, namun sangat berat untuk mengamalkannya. Sabar, sebuah nasihat yang mungkin sudah pernah tertulis berulang kali dalam artikel para santri. Bosan memang, kalau kita terus membaca dan mendengarkan nasihat ini. Namun karena pentingnya sabar dalam hidup seorang mukmin, tak mengapa lah kita kembali mengulangnya agar menjadi pengingat bagi kita semua. Sabar itu konsekuensinya berat, menahan hati, lisan, dan anggota badan dari hal-hal yang haram yang biasanya jiwa kita malah cenderung menginginkannya. Atau menahan diri dan menerima hal-hal tidak mengenakkan yang menimpa kita. Tidak hanya itu, bahkan terkadang untuk bersabar kita harus mengorbankan perasaan. Tak heran, Allah menjanjikan pahala yang besar bagi mereka yang mampu bersabar. Dalam ayat-Nya Dia mengatakan, ุฅููููู
ูุง ูููููููู ุงูุตููุงุจูุฑูููู ุฃูุฌูุฑูููู
ู ุจูุบูููุฑู ุญูุณูุงุจู โSesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.โ Az-Zumar 10 Sabar bagi seorang mukmin merupakan suatu keharusan, yang selalu menemani dan mengiringinya di saat musibah itu datang menghadang. Itulah yang Nabi shallallahu alaihi wa sallam sabdakan, ุนูุฌูุจูุง ููุฃูู
ูุฑู ุงููู
ูุคูู
ูููุ ุฅูููู ุฃูู
ูุฑููู ููููููู ุฎูููุฑูุ ููููููุณู ุฐูุงูู ููุฃูุญูุฏู ุฅููููุง ููููู
ูุคูู
ูููุ ุฅููู ุฃูุตูุงุจูุชููู ุณูุฑููุงุกู ุดูููุฑูุ ููููุงูู ุฎูููุฑูุง ููููุ ููุฅููู ุฃูุตูุงุจูุชููู ุถูุฑููุงุกูุ ุตูุจูุฑู ููููุงูู ุฎูููุฑูุง ูููู โBetapa menakjubkannya urusan seorang mukmin, semua urusannya baik. Dan hal itu tidak ada pada selain mereka. Apabila kebahagiaan menghampirinya, ia bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Apabila musibah datang menimpanya, ia bersabar, maka itu pun kebaikan baginya.โ HR. Muslim no. 2999 Memang benar, sabar itu selalu ada di saat ujian menimpa mereka, di setiap waktu dan tempat. Namun yang lebih dari itu adalah sabar dalam thalabul ilmi, di saat mempelajari ilmu agama. Kenapa? Karena thalabul ilmi adalah amalan yang besar, panjang perjalanannya, tidak hanya selesai dalam dua atau tiga tahun saja. Di sana perlu perjuangan sekuat tenaga untuk tetap istikamah dan tegar dalam menghadapi berbagai rintangan dan lika-liku yang ada. Jauhnya dari orang tua dan kerabat, minimnya harta, kurangnya kemampuan dalam menghafal dan memahami, gangguan teman, kerasnya sikap guru, dan seabrek halangan lainnya. Sekarang, marilah kita membaca kisah penggugah kesabaran, yang semoga dapat menjadi inspirasi bagi kita semua. Klik laman selanjutnya di bawah Baca Juga Spirit Thalabul Ilmi
loading...Al-Habib Quraisy Baharun, pengasuh Ponpes Ash-Shidqu Kuningan Jawa Barat. Foto/Ist Banyak riwayat menceritakan kisah para Sahabat Nabi dalam mengamalkan ilmu yang disampaikan Rasulullah ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
. Ketika menerima petuah dari Nabi , para sahabat menjadikannya sebagai amalan istimewa yang dikerjakan secara istiqamah. Baca Juga Arti Cinta Bagi Para Sahabat Nabi, Yuk Ambil Hikmahnya!Di antara kisah-kisah tersebut diceritakan oleh Al-Habib Quraisy Baharun dalam tausiyahnya. Seperti kisah Fatimah radhiyallahu'anha putri Rasulullah ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
yang diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Ketika Fatimah curhat kepada Nabi ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
untuk meminta pembantu, lantas Nabi memberinya petuahุฃููุง ุฃุฏูู ุนูู ู
ุง ูู ุฎูุฑ ูู ู
ู ุฎุงุฏู
ุ! ุฅุฐุง ุฃููุช ุฅูู ูุฑุงุดู ุชุณุจุญูู ุงููู ุชุนุงูู ุซูุงุซุงู ูุซูุงุซููุ ูุชุญู
ุฏููู ุซูุงุซุงู ูุซูุงุซููุ ูุชูุจุฑููู ุฃุฑุจุนุงู ูุซูุงุซูู"Maukah kamu saya beritahu suatu hal yang lebih baik dari pembantu? Jika kamu beranjak tidur bertasbihlah 33 kali, bertahmid 33 kali, dan bertakbir 34 kali. Setelah mendengar pesan ini, Sayyidina Ali radhiyallahu'anhu suami Sayyidah Fathimah mengatakan ูู
ุง ุชุฑูุชูุง ู
ูุฐ ุณู
ุนุชูุง ู
ู ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
Semenjak saya mendengarnya dari Rasulullah ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
tak pernah sekalipun saya ketika malam hari perang Sifin, yaitu peperangan yang sangat terkenal, yang tentu saja kondisi sedang berkecamuk. Namun, Ali tidak melupakan pesan Nabi yang mulia ini. Sayyidina Ali berkata ููุง ูููุฉ ุงูุตููู"Sampaipun malam hari perang Sifin, dzikir ini tidak aku tinggalkan!"Kisah berikutnya diriwayatkan oleh Dawud bin Abu Hindun, dari Nu'man bin Salim, dari Amr bin Aus beliau menceritakan 'Anbasah bin Abu Sufyan menyampaikan sebuah hadis saat beliau mengalami sakit yang beliau meninggal dunia karena penyakit tersebut. "Aku mendengar Ummu Habibah berkata, Aku mendengar Rasulullah ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
bersabdaู
ููู ุตููููู ุงุซูููุชููู ุนูุดูุฑูุฉู ุฑูููุนูุฉู ูู ููู
ููููุฉ ุจูู ูููู ุจูููุชูุง ููู ุงููุฌููููุฉู"Siapa yang mengerjakan salat sebanyak 12 rakaat salat sunnah Rawatib, maka akan Allah bangunkan untuknya rumahnya di surga."Mendengar pesan agung ini, Ummu Habibah mengatakan, "Semenjak aku mendengar pesan ini dari Rasulullah ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
, tak pernah sekalipun aku tinggalkan!" Baca Juga Kemudian sikap Ummu Habibah dicontoh oleh 'Anbasah. "Sejak aku mendengar pesan ini dari Ummu Habibah, tak pernah sekalipun aku tinggalkan!"Terus diikuti oleh para perawi setelah beliau, Amr bin Aus "Semenjak aku mendengar pesan ini dari 'Anbasah, tak pernah sekalipun aku tinggalkan!"Nu'man bin Salim mengatakan, "Sejak aku mendengar pesan ini dari Amr bin Salim, tak pernah sekalipun aku tinggalkan!"HR. MuslimKisah senada dari sahabat Abu Darda' radhiyallahu'anhu, berliau pernah berkataุฃูุตุงูู ุญุจูุญุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุจุซูุงุซ ูู ุฃุฏุนูู ู
ุง ุนุดุช"Kekasihku shallallahu 'alaihi wa sallam mewasiatkan kepadaku 3 hal, yang tak akan aku tinggalkan selama hidupku. Kemudian beliau menyebutkan wasiat-wasiat itu. HR. Muslim Kisah lain diceritakan oleh Habib Quraisy yaitu sahabat belia yang bernama Umar bin Abi Salamah radhiyallahu'anhu, beliau sendiri bercerita
Buku sebagai jendela dunia. Foto PixabaySedari kecil kita semua sudah diajarkan oleh orangtua sedikit demi sedikit untuk mengetahui banyak hal. Belajar mengetahui hal-hal sederhana hingga otak kita mampu menyerapnya dengan zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang sahabat beliau yang sudah menunjukkan keingintahuan dan kesungguhannya dalam belajar banyak hal. Dia bernama Abdullah bin Abbas atau Ibnu Abbas. Dia adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal tidak pernah bosan menggali ilmu sejak usia muda. Ibnu Abbas, si 'gila' ilmu bin Abbas adalah sepupu dari Nabi Muhammad SAW. Ia merupakan anak dari Abbas bin Abdul Muthalib dan Ummu al-Fadl Lubaba. Ayah dari Abdullah, adalah paman terkasih Nabi Muhammad SAW. Ketika Nabi Muhammad SAW wafat, Abbas adalah orang yang paling merasa kesepian atas Ibnu Abbas sudah dikenal akrab dengan Nabi Muhammad SAW sejak kecil. Bersama beliau, ia tumbuh menjadi pribadi yang mempunyai karakter dan sifat yang suatu ketika, Ibnu Abbas dipenuhi rasa keingintahuan yang besar tentang bagaimana cara Nabi Muhammad SAW salat. Hingga ia dengan sengaha menginap di rumah bibinya, Maimunah binti Al-Harits yang merupakan istri Nabi Muhammad dipertengahan malam, ia mendengar Nabi Muhammad SAW bangun untuk menunaikan ibadah salat. Dia pun bergegas mengambil air untuk bekal wudu Nabi Muhammad SAW. Betapa terkejutnya beliau ketika menemukan Ibnu Abbas masih terjaga dan menyediakan air wudu bahagia menggelora di hati Nabi Muhammad SAW saat itu. Beliau pernah mendoakan Abdullah bin Abbas, "Ya Allah, berilah ia pengertian dalam bidang agama dan berilah ia pengetahuan takwil tafsir."Dari doa tersebut, Abdullah bin Abbad pun dikenal sebagai ahli tafsir. Dia juga banyak meriwayatkan hadist, tak kalah dari sahabat Nabi Muhammad SAW sekaligus perawi hadist lainnya, seperti Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan sedari kecil orang sudah mempunyai rasa ingin tahu yang besar akan sesuatu hal, tentu tanpa sadar hal itu bisa saja terus mengalir di dalam diri hingga kapan suatu waktu, di saat orang yang benar-benar akrab dengannya sejak kecil, Nabi Muhammad SAW meninggal, kesungguhan belajar Abdullah bin Abbas tidak pernah kendur. Walaupun dia merasa begitu sangat kehilangan dan tidak mau berlarut-larut tenggelam akan kesedihan, dia tetap meneruskan untuk menimba ilmu. Tentu saja, ilmu itu tidak hanya didapat pada satu orang, ada banyak orang di muka bumi ini yang bisa kita andalkan untuk memetik suatu pembelajaran terhadap hal apa pun. Masih ada banyak para sahabat Nabi Muhammad SAW yang masih hidup dan menjadi tempat untuk Ibnu Abbas melanjutkan untuk menimba hidup Abdullah bin Abbas, mengetuk satu pintu ke pintu yang lain untuk menimba ilmu dari para sahabat Nabi Muhammad SAW. Sampai pada akhirnya, ia menjadi seorang pemuda dengan ilmu dan pengetahuan yang tinggi. Di saat usianya yang masih muda, ilmu dan pengetahuan yang ia dapat tak berimbang dengan orang yang pernah bertanya kepada beliau, "Bagaimana Anda mendapatkan ilmu ini, Ibnu Abbas?"Abdullah bin Abbas menjawab, "Dengan lidah dan gemar bertanya, dengan akal yang suka berpikir."Tingginya ilmu yang ia gapai, menjadikannya sebagai kawan dan lawan diskusi bagi para sahabat Abdullah bin Abbas yang selalu haus akan ilmu dan pengetahuan, menjadikannya sebagai seorang yang patut dijadikan panutan. Semoga, kisahnya bisa menjadi pembelajaran positif bagi kita semua untuk mengetahui banyak hal, ya.
MENELADANI sahabat Nabi dalam menuntut ilmu. Seperti diketahui, kita mengenal bahwa sahabat Nabi adalah orang-orang yang memiliki ilmu luar biasa. Baca Juga Mengenal Sahabat Nabi, Abdullah bin Mas&8217;ud yang Akhlaknya Paling Mirip dengan Rasulullah Namun, ilmu-ilmu yang didapatkan tidaklah diraih secara instan. Perlu semangat, kerja keras, dan semacamnya. Selain itu, mereka juga serius untuk memahami suatu ilmu. Kita pasti sering mendengar banyak kisah perjuangan-perjuangan sahabat untuk belajar sebuah ilmu. Ada yang harus rela bepergian jauh untuk menuntut ilmu, dan berbagai perjuangan lainnya. Kemudian, para sahabat juga sangat berhati-hati ketika menerima sebuah ilmu. Oleh sebab itu, ketika mereka ingin mengetahui suatu hal, para sahabat bertanya langsung kepada sumber yang terpercaya, yaitu Rasulullah. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, ูู
ู ุชุฏุจุฑ ุฃุญูุงู ุงูุตุญุงุจุฉ ูุฌุฏ ุฃููู
ุฃุญุฑุต ุงููุงุณ ุนูู ุงูุนูู
ูุฃููู
ูุง ูุชุฑููู ุดูุฆุง ูุญุชุงุฌูู ุฅููู ูู ุฃู
ูุฑ ุฏูููู
ูุฏููุงูู
ุฅูุง ุงุจุชุฏุฑูู ูุงููู ุงูู
ููู. โBarang siapa yang memperhatikan keadaan sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, niscaya dia akan mendapati bahwa mereka adalah manusia yang paling bersemangat dalam hal ilmu. Tidaklah mereka meninggalkan sedikit pun perkara yang mereka butuhkan dalam urusan agama dan dunia melainkan mereka bersegera menanyakannya, wallahul-muwaffiq.โ Sumber Syarh Riyadh al-Shalihin, Jilid 1, hlm. 263. Alih Bahasa Abu Fudhail Abdurahman Ibnu Umar ุบูุฑ ุงูุฑุญู
ู ูู.
Menuntut ilmu adalah salah satu aktivitas kehidupan yang dianjurkan oleh syariat dengan anjuran yang tegas. Sebagai bukti ketegasannya, umat manusia diperintahkan menuntut ilmu tanpa batasan dimensi waktu dan tempat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda โTuntutlah ilmu semenjak kamu terbaring di ayunan sampai beristirahat panjang di liang kuburanโ. Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, โTuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Chinaโ. Dua hadits Nabi di atas secara tersirat menggambarkan akan begitu pentingnya aktivitas menuntut ilmu itu. Hadits pertama memberi pemahaman bahwa tiada batasan waktu dalam menuntut ilmu. Atau dengan istilah lain tiada kata terlambat untuk mendapatkan ilmu Allah yang membahari itu. Sementara hadits kedua menekankan pemahaman tentang dimensi tempat, artinya aktivitas menuntut ilmu sama sekali tak terbatas oleh dimensi tempat. Rasulullah shallahu alaihi wa sallam bersabda demikian saat beliau berada di kota Madinah yang saat itu. Sebab, di tempat itulah Islam tumbuh dan berkembang. Kendati demikian, saat memerintahkan umatnya menuntut ilmu Rasulullah shallahu alaihi wa sallam masih menyebutkan negeri China. Mengapa? Untuk menegaskan bahwa mencari ilmu walau sejauh apa punโbahkan sampai ke Chinaโtetap harus dilakukan. Namun, menuntut ilmu tidaklah sama dengan mencari kayu bakar di hutan yang hanya tinggal mengumpulkan dan membawanya pulang. Pencari kayu bakar memiliki kebebasan untuk keluar-masuk hutan kapan saja dan mengumpulkan kayu apa saja dan sebanyak mungkin. Akan tetapi seorang penuntut ilmu memiliki tata cara dan aturan dalam mencari ilmu yang dikenal dengan adรฃb al-mutaโallim. Al-Imam Fakhruddin ar-Razi, yang hidup di abad kelima hijriah, dalam kitabnya Tafsir al-Fakhru ar-Razi atau yang lumrah dikenal dengan Mafรฃtรฎh al-Ghaib, memiliki kajian yang sangat mendalam dan menakjubkan saat menafsirkan surah al-Kahfi ayat 66 yang menceritakan bagaimana Nabi Musa sebelum berguru kepada Nabi Khidir alaihima as-salam. Dari firman Allah subhanahu wa taโala yang berbunyi ููุงูู ูููู ู
ููุณูููฐ ูููู ุฃูุชููุจูุนููู ุนูููููฐ ุฃููู ุชูุนููููู
ููู ู
ูู
ููุง ุนููููู
ูุชู ุฑูุดูุฏูุง Artinya Musa berkata kepadanya Khidir, โBolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk?โ Baca juga Al-Imam Fakhruddin ar-Razi berhasil memunculkan dua belas adab atau tata karma dalam menuntut ilmu. Namun dalam tulisan ini ada tiga poin adab yang disatukan pembahasannya dengan poin adab yang lain. Sehingga yang tercantum dalam tulisan ini hanya sembilan adab. Di antaranya adalah 1. Mengabdi dan bersikap tawadhuโ rendah hati terhadap guru Dari kisah Nabi Musa yaitu saat menyampaikan maksud bahwa beliau hendak ikut kepada Nabi Khidir dengan kalimat ูู ุฃุชูุจุนู bolehkah aku mengikutimu memberikan sebuah teladan baik sebagai bentuk adab kepada seorang guru. Artinya seharusnya seorang murid sebelum menimba ilmu dari gurunya agar meminta izin terlebih dahulu dengan cara mengikrarkan kesediaannya untuk ikut dan mengabdi terhadap sang guru. Dan itu adalah sebentuk ketawadukan atau sikap rendah hati yang begitu agung dari seorang murid. Dan melalui kalimat ุฃุชูุจุนู ar-Razi memunculkan satu kesimpulan bahwa dalam menuntut ilmu seorang murid harus ikut kepada gurunya secara kafah, tanpa syarat dan ketentuan apa pun. Terbukti saat prosesi permintaan izin untuk ikut dengan Nabi Khidir, Nabi Musa tidak menyertakan syarat apa pun. 2. Menyatakan diri sebagai murid yang tak tahu apa-apa Dalam menuntut ilmu seorang murid dilarang keras untuk menyanjung dirinya, bersikap angkuh, atau menampakkan kepintarannya di hadapan sang guru guna menunjukkan bahwa dirinya telah menguasai satu atau beberapa bidang keilmuan tertentu. Melainkan sebagai bentuk akhlak mulia dalam menuntut ilmu, seorang murid harusnya menampakkan bahwa ilmu yang dimilikinya sangatlah dangkal dan tak dalam, sekaligus memuji sang guru sebagai seorang cendekiawan dengan wawasan yang tinggi. Sehingga menjadi suatu pendorong kuat untuk memperoleh bimbingan intelektual dari sang guru yang wawasan intelektualnya membahari itu. 3. Ketidakbolehan memiliki banyak permintaan kepada guru Termasuk adab menuntut ilmu, seorang murid tak ubahnya bagai orang fakir yang mengemis meminta harta kepada seorang yang kaya raya. Artinya seorang pengemis tidak mungkin meminta seluruh harta atau separuh dari harta yang dimiliki oleh orang kaya tersebut. Melainkan ia hanya meminta nol koma sekian persen saja dari persentase seluruh harta si kaya. Begitu juga seorang murid kepada gurunya. Sang murid tidak diperkenankan untuk meminta banyak dari ilmu sang guru. Pendek kata, sebagai murid yang berakhlak mulia seharusnya agar tidak meminta kepada sang guru dalam hal keilmuan untuk dijadikan sealim gurunya atau bahkan melebihi kealiman sang guru. Tentu menyalahi tata karma ketika si pengemis meminta harta berlimpah kepada seseorang agar memiliki kekayaan yang sama dengan orang yang dimintai itu. Kendatipun demikian, sebagai guru yang baik dan profesional, pasti memiliki cita-cita yang luhur untuk para anak didiknya. Yaitu bagaimana setiap anak didiknya mampu melebihi keilmuan dirinya. 4. Mengakui bahwa semua ilmu datangnya dari Allah Adab selanjutnya adalah bertitik fokus pada pemantapan hati seorang murid bahwa dalam menuntut ilmu sang murid harus meyakini sepenuhnya bahwa seluruh ilmu datangnya dari Allah subhanhu wa taโala. Bahkan termasuk ilmu yang dimiliki oleh gurunya. Hal ini al-Imam Fakhruddin ar-Razi mengkajinya melalui kalimat ู
ู
ุง ุนููู
ุช sebagian dari ilmu yang diajarkan kepadamu. Jadi dalam konteks ini, Nabi Musa meminta kepada Nabi Khidir agar beliau berkenan mengajarkan sebagian ilmu yang diajarkan Allah kepadanya. Adab semacam ini lebih membuka terhadap kasih sayang seorang guru kepada muridnya. Sehingga ia berkenan untuk mengajarkan dan membimbing sang murid tersebut. 5. Meminta petunjuk dan bimbingan dari guru Sebagaimana telah maklum bersama bahwa tujuan agung dari belajar dan menuntut ilmu adalah menjaga diri secara khusus dan umat manusia pada umumnya agar tidak terperosok ke dalam lubang kesesatan dan kehancuran. Akan tetapi, hanya dengan ilmu, seseorang tidak akan mampu mengubah ajakan kesesatan itu menjadi spirit kebaikan kecuali dengan petunjuk dan bimbingan dari seorang guru. Itulah hikmah dari Firman Allah subhanahu wa taโala ู
ู
ูุง ุนููู
ุช ุฑุดุฏุง. Jadi dalam penggalan ayat tersebut terdapat kalimat ุนููู
ุช yang merepresentasikan makna ilmuโ yang disandingkan dengan kata ุงูุฑุดุฏ petunjuk. Dapat disimpulkan bahwa termasuk adab mulia dalam menuntut ilmu yaitu seorang murid tidak hanya meminta ilmu kepada gurunya melainkan juga memohon petunjuk, nasihat dan arahan ke jalan yang benar. Sehingga tujuan pensyariatan menuntut ilmu tersebut tercapai. Karena banyak umat manusia terjerumus ke jalan yang salah bukan karena tidak tahu bahwa itu salah. Tetapi karena tidak ada yang memberi nasihat dan dorongan agar tidak meniti titian kesesatan tersebut. 6. Ketidakbolehan menentang dan membantah apa yang dilakukan guru Telah dijelaskan pada poin sebelumnya bahwa mengabdi adalah salah satu cara merealisasikan adab saat menuntut ilmu, yang dimana dalam mengabdi kepada guru ada beberapa hal fundamental yang sekaligus juga menjadi tata krama dalam menuntut ilmu. Salah satunya adalah taslim menyerahkan diri sepenuhnya kepada sang guru. Hal semacam ini telah menjadi tradisi di pesantren-pesantren salaf di Indonesia. Dalam hal pernikahan misalnya, baik santriwan maupun santriwati yang telah taslim kepada seorang kiai atau pengasuh sebuah pesantren, tidak perlu sibuk mencari pasangan hidupnya. Karena mereka menunggu keputusan sang kiai tentang kapan dan dengan siapa mereka akan dinikahkan. Pola pikir yang digunakan sangatlah sederhana, karena wali santri atau orang tua dari santri yang bersangkutan telah memasrahkan putra-putrinya dengan cara menyerahkannya kepada sang kiai, maka dengan begitu, sampai dalam hal pernikahan pun juga menunggu keputusan sang kiai. Ketidakbolehan menentang dan membantah pilihan sang kiai adalah termasuk akhlak mulia dalam menuntut ilmu, sampai dalam hal penentuan jodoh sekalipun. 7. Mencari ilmu pengetahuan tanpa perhitungkan status sosial Termasuk pelajaran yang dapat kita petik dari kisah perjalanan nyantri-nya Nabi Musa kepada Nabi Khidir ialah bahwa menuntut ilmu tidak boleh memperhitungkan status sosial. Dalam hal ini kata mutiara โุฃูุธุฑ ู
ุง ูุงู ููุง ุชูุธุฑ ู
ู ูุงูโ perhatikanlah apa yang dikatakan dan jangan perhatikan siapa yang mengatakan yang dituturkan oleh bab al-ilmi sayidina Ali karramallahu wajhah adalah yang paling tepat untuk mengungkapkan substansi dari pembahasan dalam poin ini. Nabi Musa 'alaihissalam dalam perjalanan nyantri-nya tidak pernah sedikit pun mempermasalahkan status sosial beliau sebagai nabi kaum Bani Israil. Beliau tetap menjunjung tinggi akhlak dan ketawadukan beliau kepada sang guru. Begitu juga gurunya, Nabi Khidir 'alaihissalam. Sang guru bukannya tidak tahu bahwa yang datang menemui beliau dan memintanya menjadi guru adalah seorang nabi Bani Israil, sang Kalรฎmullah, melainkan karena sang guru paham bahwa kebenaran tidak mesti diberikan kepada orang dengan status sosial yang tinggi, akan tetapi kebenaran dianugerahkan kepada siapa saja yang Allah kehendaki. 8. Mondok untuk mengabdi dan kemudian mengaji Kajian al-Imam Fakhruddin ar-Razi selanjutnya adalah soal manajemen waktu. Seorang thรขlib al-ilmi pencari ilmu tatkala berguru, sebaiknya pertama kali yang ia lakukan adalah mengabdi kepada sang guru, baru kemudian mengaji dan menimba ilmu dari gurunya. Hal ini kerap diistilahkan dengan ุงูุฎุฏู
ุฉ ูุจู ุงูุนูู
mengabdi sebelum mengaji. Kajian ini disimpulkan ar-Razi dari penggalan ayat ูู ุฃุชูุจุนู ุนูู ุฃู ุชุนููู
ูู apakah aku boleh mengikutimu agar engkau dapat mengajarkanku... Dalam penggalan ayat tersebut penyebutan ุฃุชูุจุนู yang menjadi representasi dari makna mengabdiโ disebutkan lebih dahulu dari pada kalimat ุฃู ุชุนููู
ูู yang merepresentasikan makna mengajiโ. Sehingga disimpulkan oleh ar-Razi bahwa termasuk adab menuntut ilmu adalah mendahulukan pengabdian terhadap sang guru sebelum mengaji dan menimba ilmu darinya. 9. Belajar harus untuk ilmu bukan yang lain Adab menuntut ilmu yang terakhir adalah berkenaan dengan niat dan tujuan menuntut ilmu. Sebagai penuntut ilmu harus mampu memperbaiki niat dan tujuan dalam menuntut ilmu. Berkaitan dengan hal ini Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda; ุฅูู
ุง ุงูุฃุนู
ุงู ุจุงูููุงุชุ ูุฅูู
ุง ููู ุงู
ุฑุฆ ู
ุง ูููุ ูู
ู ูุงูุช ูุฌุฑุชู ุฅูู ุงููู ูุฑุณูููุ ููุฌุฑุชู ุฅูู ุงููู ูุฑุณูููุ ูู
ู ูุงูุช ูุฌุฑุชู ูุฏููุง ูุตูุจูุง ุฃู ุงู
ุฑุฃุฉ ูููุญูุงุ ููุฌุฑุชู ุฅูู ู
ุง ูุงุฌุฑ ุฅููู Artinya "Seluruh amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan setiap orang hanya akan memperoleh ganjaran dari apa yang diniatkannya. Oleh karena itu, barangsiapa hijrahnya menuju keridhaan Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju keridhaan Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena harta atau kemegahan dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya. HR. Bukhari-Muslim. Nasihat terbaik ar-Razi kepada para penuntut ilmu yang tersirat dalam Mafatih al-Ghaib-nya yaitu agar jangan sampai aktivitas mulianya ternodai dengan niat dan tujuannya sendiri. Menuntut ilmu jangan sekali-kali diniatkan sebagai ladang mencari harta dan tahta di masa mendatang. Wallahu aโlam. Ahmad Dirgahayu Hidayat, Mahassantri Maโhad Aly Salafiyah Syafiโiyah Situbondo Jawa Timur; Mahasiswa Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo
kisah para sahabat dalam menuntut ilmu